images

Relevansi Anjuran "Habiskan" Pemakaian Antibiotik

[OPINI] Anjuran "Habiskan" Pada Pemakaian Antibiotik Untuk Cegah Resistensi Bakteri: Masihkah Relevan?


Oleh: apt. Ageng Tri Lestari, S.Farm.

Antibiotik adalah jenis obat untuk mencegah dan mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Sering ditemukan kasus dimana pemberian terapi antibiotik ini tidak tepat indikasi, seperti pemberian antibiotik pada penyakit yang sebenarnya disebabkan oleh virus maupun mikroba infeksius lainnya. Sering juga terjadi — konsumsi antibiotik tidak disesuaikan dengan kebutuhan pasien, baik jenis, dosis, maupun durasi terapi. Penggunaan antibiotik yang tidak terkendali dengan baik menjadi salah satu penyebab utama  lahirnya "Super Bug" (bakteri super) yang bersifat resisten terhadap berbagai jenis antibiotik. 

Resistensi antibiotik adalah kondisi kebal bakteri terhadap pemberian antibiotik dan mengakibatkan penurunan efektivitas antibiotik dalam mengatasi infeksi bakteri. Masyarakat kembali dihadapkan dengan krisis karena resistensi antibiotik yang disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang berlebihan. Sementara, senyawa antibiotik kini seakan menjadi sumber daya yang tidak dapat diperbaharui dan langka, karena bakteri telah resisten terhadap berbagai senyawa antibiotik yang tersedia. Tentunya hal ini terjadi bersamaan dengan munculnya tekanan untuk menemukan senyawa antibiotik yang baru. Peresepan antibiotik yang lebih banyak menyebabkan seleksi yang lebih ketat, menumbuhkan sifat resistensi yang lebih hebat [4].

Secara umum, cara bakteri untuk menjadi resisten terhadap senyawa antibiotik adalah adanya perubahan/mutasi pada genetik bakteri. Hal tersebut menyebabkan bakteri mampu mengenali senyawa obat, membentuk ketahanan terhadap senyawa antibiotik, serta memiliki keganasan yang lebih tinggi dalam menimbulkan infeksi. Dampak akhir dari resistensi tersebut adalah meningkatnya morbiditas, mortalitas (kematian) dari penyakit infeksi, dan tingginya biaya pengobatan karena melibatkan penggunaan antibiotik kelas terapi yang tinggi. Resistensi antibiotik umumnya disebabkan oleh beberapa faktor, seperti:

1) Penggunaan antibiotik yang tidak rasional;
2) Tidak/belum tersedianya fasilitas antimicrobial sensitivity test (AST) di unit pelayanan kesehatan untuk memeriksa respon bakteri terhadap pemberian antibiotik (mengukur efektivitas antibiotik dalam melawan bakteri);
3) Penggunaan antibiotik secara empiris (turun temurun, menggunakan teori lama);
4) Penggunaan antibiotik secara swamedikasi (pengobatan pribadi, tanpa resep dokter);
5) Belum efektifnya program pengendalian nasional terhadap resistensi antibiotik; dan
6) Kesulitan dalam penemuan antibiotik baru

Dogma “mikroba lebih pintar daripada manusia” nyatanya berhasil didukung dengan kecepatan bakteri dalam bermutasi dan melahirkan sifat resistennya.

Bagi Anda ataupun kerabat yang pernah menjadi pasien dan menerima terapi antibiotik dari praktisi kesehatan, hampir dapat dipastikan bahwa Anda telah menerima konseling dari mereka untuk menghabiskan obat yang Anda dapatkan — meskipun kondisi Anda telah membaik sebelum obat dihabiskan. Jika Anda merupakan tenaga kesehatan, sudah seberapa sering Anda memberikan anjuran "habiskan" ke pasien yang menerima terapi antibiotik? Umumnya hal tersebut juga disampaikan secara tertulis pada etiket (label petunjuk pemakaian obat). Anjuran untuk menghabiskan antibiotik tersebut dikuatkan dengan fakta, bahwa perbaikan kondisi dan pengurangan gejala infeksi tidak selalu menginterpretasikan infeksi telah benar-benar hilang dari tubuh pasien. Tetapi, bagaimana dengan risiko resistensi terhadap penggunaan antibiotik yang melebihi target terapi? Bagaimana jika infeksi bakteri dalam tubuh pasien telah benar-benar tiada?

Dalam pidatonya pada tahun 1945, Alexander Fleming yang menerima hadiah Nobel atas penemuan Penicillin (antibiotik pertama di dunia) membuat hipotesis dan mengisahkan seseorang yang mengobati sakit tenggorokannya dengan antibiotik tanpa intervensi tenaga kesehatan. Beliau mengingatkan mengenai bahaya dari resistensi antimikroba. [1][3]
"Dia membeli Penicillin dan mengkonsumsinya — tidak cukup untuk membunuh bakteri Streptococcus, tetapi cukup untuk mengedukasi bakteri untuk menjadi resisten terhadap Penicillin". Fleming menambahkan, "Jika kamu menggunakan Penicillin, gunakanlah dalam jumlah cukup". Meskipun yang disinggung dalam kutipan tersebut adalah risiko dosis yang tidak memadai, tetapi hal tersebut ditafsirkan sebagai keyakinan baru, bahwa durasi yang tidak memadai dari terapi antibiotik akan menghasilkan resistensi. Ironisnya, bakteri Streptococcus pyogenes yang disebutkan dalam kutipan itu sebenarnya tidak pernah dibuktikan mengalami resistensi terhadap Penicillin. Anjuran "habiskan" yang masyarakat yakini saat ini seakan hanya berlandaskan pada mitos lama bahwa pengobatan jangka pendek kurang efektif dan akan memicu resistensi. Gagasan mengenai menghentikan terapi antibiotik  untuk menghindari resistensi tidak didukung dengan bukti, sementara penggunaan antibiotik dalam durasi yang lebih panjang juga dapat meningkatkan risiko resistensi. [1][3]


Mitos 1: Terapi Antibiotik Jangka Pendek Kurang Efektif

Pada tahun 321 Masehi, Kaisar Romawi Constantine the Great mengkodifikasi bahwa akan ada 7 hari dalam seminggu. Ironisnya, di era kedokteran modern berbasis bukti saat ini, dekrit berusia hampir 17 abad itu tetap menjadi acuan penentuan durasi terapi antibiotik: interval 7 atau 14 hari dalam mengobati infeksi [2]. Banyak terapi antibiotik yang diresepkan untuk jangka waktu yang tetap (contoh: 7, 10, 14 hari) tanpa mempertimbangkan kembali respon klinis yang variatif dari setiap pasien. Tetapi, dengan semakin banyaknya data durasi terapi pasien yang telah terkumpul, para tenaga kesehatan pun mempelajari bahwa pemberian antibiotik yang lebih singkat biasanya memiliki efektivitas yang sama dengan durasi yang lebih panjang untuk infeksi tanpa komplikasi. Adapun beberapa pengecualian dimana terapi yang lebih panjang perlu dipertimbangkan, misalnya pada terapi terhadap bakteri Streptococcal pharyngitis dan otitis media pada balita di bawah 2 tahun karena merupakan infeksi kronis [1].
Dilansir dari JAMA Internal Medicine yang disusun oleh Uranga dkk, dilakukan perbandingan terapi antibiotik jangka pendek vs terapi jangka panjang untuk pasien rawat inap dengan community-acquired pneumonia (pneumonia yang didapatkan di komunitas hidup masyarakat/di luar area rumah sakit). Pasien yang diberikan rejimen jangka pendek menerima antibiotik untuk 5 hari vs 10 hari untuk regimen standar. Di akhir penelitian pada populasi yang sama, terapi jangka pendek diketahui sama efektifnya dengan terapi jangka panjang [2].

Mitos 2: Terapi Antibiotik Jangka Pendek Memicu Resistensi

Banyak klinisi (termasuk penulis) terdidik dengan anggapan bahwa penghentian pemberian antibiotik sebelum waktunya dapat memicu berkembangnya bakteri resisten. Faktanya, paparan antibiotik yang berkepanjangan memberikan tekanan selektif untuk mendorong resistensi antimikroba. Selain itu, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa paparan pada pemberian antibiotik yang panjang membuat pasien berisiko mengalami reaksi yang tidak diinginkan, seperti ditemukannya infeksi bakteri Clostridium difficile. Penggunaan antibiotik yang berlebihan memiliki korelasi dengan kecepatan bakteri untuk menjadi resisten [1].

Lantas bagaimana kita mengambil langkah dalam menyikapi mantra "lebih lama lebih baik" dalam penggunaan antibiotik?

Sebagai profesional pada bidang kesehatan, tenaga kesehatan perlu mengambil peran masing-masing dalam menghentikan resistensi antibiotik dan meningkatkan keamanan pasien. Pendekatan terhadap kebutuhan pasien perlu dilakukan dalam pemberian terapi, seperti menentukan jenis antibiotik dan durasi yang diberikan berdasarkan referensi yang valid. Asesmen tambahan untuk mengevaluasi efektivitas antibiotik pasca terapi juga perlu dilakukan. Beberapa ahli telah menyarankan konseling pasien untuk menghubungi pemberi resepnya jika gejala telah membaik sebelum menyelesaikan terapi, agar terapi dalam jangka yang lebih pendek dapat dipertimbangkan.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan durasi pengobatan yang optimal untuk berbagai infeksi. Fokus tenaga kesehatan harus bergeser untuk memastikan penggunaan antibiotik yang tepat dan memperbanyak dialog antara pemberi resep dan pasien mengenai bahaya penggunaan antibiotik yang berlebihan. Penulis berharap, agar para pembuat kebijakan, pendidik, dokter, dan tenaga kesehatan lainnya bersedia untuk meluruskan makna dari anjuran "habiskan" dalam terapi antibiotik, sehingga pasien mengetahui pentingnya berkonsultasi kembali mengenai penggunaan antibiotik setelah gejala membaik pasca terapi.

Referensi:

1. Langford B, Morris A. Is it time to stop counselling patients to “finish the course of antibiotics”?. Canadian Pharmacists Journal / Revue des Pharmaciens du Canada [Internet]. 2017 [cited 23 November 2021];150(6):349-350. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5661683/
2. Spellberg B. The New Antibiotic Mantra—“Shorter Is Better”. JAMA Internal Medicine [Internet]. 2016 [cited 23 November 2021];176(9):1254. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5233409/
3. Llewelyn M, Fitzpatrick J, Darwin E, SarahTonkin-Crine, Gorton C, Paul J et al. The antibiotic course has had its day. BMJ [Internet]. 2017 [cited 23 November 2021];:j3418. Available from: https://www.bmj.com/content/358/bmj.j3418
4. Spellberg B, Rice L. Duration of Antibiotic Therapy: Shorter Is Better. Annals of Internal Medicine [Internet]. 2019 [cited 23 November 2021];171(3):210. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6736742/