Mengulik Obat Terapi ART untuk Penderita HIV-AIDS

KFTD - Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) menjadi salah satu penyakit yang menyerang imunitas tubuh dan berpotensi mengancam nyawa. Pengidap penyakit ini akan mengalami kerusakan kekebalan tubuh dan lebih rentan terserang infeksi/penyakit.

Sampai saat ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan HIV/AIDS. Namun, masih ada acara untuk mengendalikan perkembangan HIV/AIDS yakni dengan terapi obat-obatan atau Terapi Antiretroviral (ART).

Apa terapi ART itu?

Terapi ART direkomendasikan untuk penderita HIV/AIDS. Bukan untuk menyembuhkan, namun membantu para  pasien agar hidup lebih lama dan sehat.

Obat-obatan yang digunakan pada terapi ART berbeda-beda untuk masing-masing pasien. Sebelum menentukan, harus ada perhitungan resistensi obat individu, riset untuk menghindari terbentuknya jenis HIV baru yang resisten obat dan memaksimalkan penekanan virus.

Kelas obat yang digunakan pada terapi ART

Obat-obatan di bawah ini adalah yang digunakan pasien terapi ART. Namun untuk pembelian dan penggunaanya harus tetap dengan saran dan arahan dokter.

1. Non-Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTI)

Obat ini digunakan untuk mematikan protein yang dibutuhkan HIV untuk membuat duplikatnya sendiri.  Contoh obat NNRTI adalah Delavirdine (DLV), Efavirenz (EFV), Etravirine (ETV), Nevirapine (NVP), dan Rilpivirine (RPV).

2. Nucleoside atau Nucleotide Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI)


NRTI adalah obat yang berfungsi untuk  menghalangi enzim HIV yang bereplikasi. Obat tersebut adalah versi yang salah dari blok bangunan yang dibutuhkan HIV untuk membuat duplikat dirinya sendiri.

Contoh obat NRTI adalah Bacavir, Lamivudine, Zidovudine, Emtricitabin, Tenofovir Disoproxil Fumarate, Tenofovir Alafenamide Fumarate, dan Zidovudine.

3. Protease Inhibitor (PI)


PI bertugas sebagai obat yang menonaktifkan protease HIV, yakni protein lain yang dibutuhkan untuk menggandakan dirinya sendiri.

Contoh dari PI adalah Amprenavir (APV), Atazanavir (ATV), Darunavir (DRV), Fosamprenavir (FPV), Indinavir (IDV), Lopinavir/ritonavir (LPV/r), Nelfinavir (NFV), Saquinavir (SQV), Tipranavir (TPV), dan Ritonavir (RTV).

4. Inhibitor Integrase 

Menonaktifkan protein yang disebut integrase, yang digunakan HIV untuk memasukkan materi genetiknya ke dalam sel T CD4. Contoh obat yang masuk dalam Integrase Inhibitor adalah Raltegravir (RGV), Elvitegravir (EVG), dan Dolutegravir (DTG).

5. Fusion Inhibitor

Obat yang bermanfaat untuk memblokir masuknya HIV ke dalam sel T CD4. Hanya satu inhibitor fusi yang saat ini tersedia, yaitu enfuvirtide (Fuzeon). Contoh obat yang masuk dalam Fusion Inhibitor adalah Enfuvirtide (T-20) dan Maraviroc (MVC).

Efek samping terapi ART

Jika Anda mengalami gejala di bawah ini saat menjalani terapi ART, segera pergi ke dokter.

  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Kesulitan tidur
  • Mulut kering
  • Sakit kepala
  • Ruam
  • Pusing
  • Kelelahan
  • Nyeri


Content Writer: Rida Ayu