Mengulik Peran Dokter dan Apoteker Dalam Penyajian Obat
KFTD – Dalam menyajikan obat ke pasien, biasanya seorang dokter akan membuat resep untuk diserahkan kepada apoteker.
Kalau dipikir-pikir mengapa harus apoteker yang menyiapkan bentuk fisik obatnya, sementara dokter hanya membuat resep. Mengapa obat tidak langsung diberikan oleh dokter saja ya?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Anda harus mulai mempelajari peran dokter dan apoteker dalam penyerahan obat.
Berikut penjelasannya, dilansir dari situs Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Tanggungjawab Dokter

1. Diagnosis
Dokter harus memastikan diagnosis yang tepat dan dijelaskan kepada pasien. Terutama menjelaskan kepatuhan terhadap terapi akan lebih baik.
Diagnosis merupakan langkah awal untuk menentukan jenis-jenis penanganan atau obat apakah yang diperlukan pasien.
2. Peresepan
Dokter meresepkan obat dalam jumlah sesedikit mungkin dan menerangkan tujuan penggunaan obat yang diserahkan ke pasien.
Pasien wajib diberi pengetahuan mengenai obat agar tidak sekadar menerima obat dan meminumnya.
3. Informasi obat
Dokter harus menerangkan bagaimana cara pakai setiap obat, efek samping yang mungkin terjadi, dan apa yang harus dilakukan jika terjadi efek yang tidak diharapkan atau tidak terjadi efek yang diharapkan.
Dengan begitu, pasien tahu kapan obat dibutuhkan lagi dan sudah dibutuhkan lagi. Supaya menghindari terjadinya kesalahan konsumsi.
Tanggungjawab Apoteker

1. Pengadaan
Tugas apoteker adalah memastikan tersedianya obat dengan kualitas yang baik, pada saat diperlukan. Mulai dari segi bentuk hingga kontrol tanggal kedaluwarsa.
Jangan sampai obat yang diserahkan tidak sesuai atau kualitasnya sebenarnya sudah tidak bisa dikonsumsi. Hal itu akan membahayakan pasien.
2. Distribusi
Memindahkan obat dengan aman kemana pun obat akan diberikan, memastikan kondisi perjalanan dan penyimpanan obat tidak mempengaruhi kondisi obat.
Beberapa obat tertentu kemungkinan memerlukan treatment yang khusus. Seperti harus diletakkan di lemari pendingin atau hal-hal khusus lainnya.
3. Peresepan
Apoteker sering diminta untuk memberikan obat bebas atau obat bebas terbatas untuk membantu pasien melakukan swamedikasi.
Tak jarang juga apoteker harus meracik obat dengan catatan kandungan obat yang sudah diresepkan dokter.
4. Monitoring
Apoteker perlu melakukan monitoring terhadap terapi jangka panjang pasien penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes dan asma.
Pasien dengan riwayat penyakit-penyakit tersebut rawan mengalami kekambuhan akibat obat yang dikonsumsi.
Content Writer: Rida Ayu Nabila K
Graphic Design: Ayuni Widya K
